Kenangan akan Tersusun Rapi di Memori dan Ingatan
Tentu setiap manusia mempunyai kenangan indah, manis, pahit, bahagia, dan sedih. Tak seharusnya kita membenci kenangan karena kenanganlah yang mengajarkan kita agar menjadi lebih baik di kehidupan kelak. Tak seharusnya pula kita melupakan kenangan, tanpanya, takkan ada pembelajaran untuk kita dikemudian hari.
Kenangan pahit memang terasa sakit, jika terus diingat maka akan menyakitkan dan menyesakkan. Kenangan indah, manis, bahagia adalah kenangan yang sangat diinginkan oleh manusia. Apakah kita bisa memilih ingin mengenang kenangan yang seperti apa? Tentu tidak bisa.
Jika kita bisa memilih, tidak akan ada yang mau mengenang kenangan pahit dan sedih.
Hidup bagaikan permainan ular tangga, kita bisa memilih ingin berhenti di mana dan singgah di mana. Tetapi, dadulah yang menentukan kita akan berhenti dan singgah di mana. Sama seperti kehidupan, dengan senang hati kita memilih dan menempatkan ingin kenangan manis atau pahit, bahagia atau sedih, indah atau muram. Tapi, kehendak Tuhanlah yang menentukan.
Salah satu tulisan karya Rintik Sendu tentang “Senja Yang Kehilangan Langitnya”, “Kenangan itu seperti bayang-bayang, yang kelihatan tak ada, tapi selalu mengikuti. Kita tak bisa lari dari bayang-bayang, kita akan selalu hidup dengannya. Namun, kita bisa memilih, antara tenggelam pada bayang-bayang, atau hidup pada kenyataan yang jelas nyata ada di depan.
Kenanganlah yang mengajarkan kita untuk lebih baik di kehidupan kelak.
Baik atau buruknya hidup, manis atau pahitnya hidup, bahagia atau sedihnya hidup, indah atau muramnya hidup. Itu sudah ditentukan oleh Tuhan, sudah direncanakan pula oleh Tuhan, tanpa bisa kita bantah, elak, dan komentari, itu akan terjadi di kehidupan manusia. Setiap manusia akan merasakan kenangan itu semua. Dalam bentuk apapun, dan bagaimana caranya kelak akan merasakan.
Terpenjara sepi, tenggelam dalam samudra kenangan, terhanyut dalam kenangan, dan terombang ambing dalam angin berhembus dengan tenang membawa kenangan.
Kenangan takkan bisa dilihat, hanya mampu dirasakan kehadirannya.
Semua manusia takkan mampu melenyapkan setiap kenangan yang telah terjadi, kenangan-kenangan yang lalu, dan kenangan-kenangan yang telah using, kita hanya mampu menimbunnya dengan menambah memori mengenai kenangan-kenangan baru yang lebih besar nilai dan pengaruhnya untuk diri kita.
Kenangan yang ada dihidupku masih tersimpan dengan rapi di lemari terbaikku, yaitu ingatanku.
Sahabat kau bagai bintang, menghiasi malam. Kau bagai embun pagi yang menyejukkan. Kau bagai pelita yang menyinari. Tanpamu, hidupku hampa. Aku tahu, disemua masalah tentu ada jalan keluarnya dan jalan terbaiknya. Dengan sigap kau menasehati dan memberi saran baik agar aku menemukan jalan keluar dan jalan terbaik itu.
Mungkin terdengar sangat buruk ketika satu sama lain saling membicarakan di belakang, saling menjatuhkan, dan saling mengejek serta berjauhan. Tak seharusnya seperti itu. Saling merangkul, menyemangati, dan menasehati, itu jauh lebih baik.
Tanpa alasan apapun menyayangi dan menjaga dengan setulus hati. Nyatanya, memang harus seperti itu. Bercanda tawa bahagia bersama, saling isi hati dengan jiwa. Tak lupa, senantiasa selalu mendoakan agar selalu bersama hingga nanti.
Telah banyak luka baik perbuatan dan ucapan yang telah ku goreskan kepadamu. Telah banyak kata dan kalimat yang mampu menyakitkan hatimu.
Maaf jika aku hanya mampu melukaimu. Percayalah, aku akan mengobati luka itu. Agar kau dapat sembuh dari luka itu. Maaf dengan tutur kataku yang menyakitkan ini.
Aku tahu, mungkin kau muak dengan sikapku, jengah dengan perbuatanku, malas dengan ucapanku. Pintaku, tegurlah aku selalu jikaku salah. Semoga kita tidak saling membicarakan di belakang, menjatuhkan, apalagi saling mengejek dan akhirnya kita berjauhan.
Kau sahabat terbaikku hingga kini, esok, dan nanti. Jangan pernah enggan untuk selalu berkeluh kesah denganku, aku akan dengan senang hati mendengarkan dan memberi saran terbaikku jika itu yang kau mau.
Tetaplah jalan beriringan, sabar, dan jangan pernah malas jika kau menasehatiku. Tetaplah selalu mengingat Tuhan dimanapun kau berada, dan selalu bersyukur agar Tuhan mengabulkan permintaanmu dengan senang hati.
Jika kau mulai malas dengan hari-harimu, ingatlah, kelak kau akan sukses dengan rajinmu. Dengan bersabar, maka kau akan mendapatkan kebahagiaan itu. Walaupun kutahu sabar itu capai, sabar itu pegal, sabar itu kesal, sabar itu emosi, sabar itu susah, tapi… sabar itu indah. Indahnya kapan? Ya, sabar.
Sahabat, masih banyak hal yang ingin aku sampaikan, namun terasa sulit, lidahku terlalu kelu untuk kugerakkan, bukan karena aku enggan dan malas kepadamu. Semua itu karena terlalu banyak hal yang membuatku selalu menyayangimu.